· Berita baru setiap pagi pukul 06.00 waktu Sumba (WITA) ⚲ CariENESID
The Sumba Times
Berita, budaya, dan perjalanan dari Pulau Sumba, Indonesia

Wisata

Kampung Pau, Sumba: para penenun bekas kerajaan Umalulu

Di delta Sungai Melolo, para perempuan bangsawan masih menenun motif timbul kain pahikung: persinggahan tenang yang berharga bagi pencinta kain.

Redaksi The Sumba TimesTerbit 2 menit baca
Jawaban singkat

Pau adalah kampung di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, dekat Melolo dan sekitar 60-65 km dari Waingapu (kira-kira 1,5-2 jam bermobil). Kampung ini adalah bekas wilayah kerajaan Umalulu dan dikenal dengan tenun terbaik di Sumba, terutama kain pahikung (teknik lungsi tambahan); tidak ada tiket, tetapi pengunjung memberi sumbangan dan sebaiknya datang bersama pemandu lokal.

Fakta penting
Lokasi
Kecamatan Umalulu, delta Sungai Melolo, Sumba Timur
Dari bandara terdekat
Waingapu (WGP): sekitar 60-65 km, kira-kira 1,5-2 jam bermobil
Waktu terbaik
Pagi hari kerja; musim kemarau untuk jalan yang lebih mudah
Tiket
Tidak ada tiket; sumbangan (sekitar Rp 20.000-50.000)
Cocok untuk
Tenun pahikung dan ikat, pencinta kain, jalan santai di kampung

Delta Sungai Melolo datar, hijau, dan lembap, hamparan sawah, pohon kelapa, dan air cokelat yang mengalir pelan. Di Pau, beberapa menit dari jalan utama, suara paling keras mungkin hanya ketukan berirama bilah pemukul pada alat tenun. Seorang perempuan duduk di lantai beranda panggung, kakinya diluruskan, alat tenun gedogan terikat di pinggulnya, mengangkat benang satu per satu dengan lidi untuk membentuk motif timbul berupa burung dan sosok manusia. Di sampingnya, seorang perempuan tua menggulung benang. Tak ada yang terburu-buru.

Pau bukan kampung pajangan. Ini tempat untuk memperlambat langkah, menyaksikan keterampilan tinggi, dan belajar tentang salah satu tradisi tekstil besar Sumba.

Mengenal lebih dekat

Pau terletak di Kecamatan Umalulu, di delta Sungai Melolo. Peneliti tekstil menyebutnya sebagai bekas wilayah kerajaan di kawasan ini, dengan pusat kerajaan di Uma Bara di samping kompleks kerajaan Watu Panunggul. Namanya konon berarti "mangga". Panduan wisata menyebut Pau bersama Umabara sebagai kampung dengan tenun terbaik di Sumba, dan satu situs panduan lokal menyebut Pau sebagai sorotan utama kampung-kampung di delta.

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Pau terutama dikenal dengan pahikung, teknik lungsi tambahan yang ditenun pada alat tenun gedogan untuk menghasilkan motif timbul pada lau (sarung perempuan) dan hinggi (kain laki-laki). Pahikung dikerjakan perempuan, termasuk perempuan bangsawan, dan diwariskan dari ibu ke anak perempuan. Keluarga bangsawan Pau terikat perkawinan dengan rumah raja Praiyawang di Rende, dan secara tradisional gadis-gadis dari sana dikirim ke Pau untuk belajar menenun.

Cara ke sana

Dari Waingapu, ikuti jalan pesisir beraspal ke tenggara menuju Melolo; Pau dicapai dari jalan Waingapu tepat sebelum jembatan Sungai Melolo. Perkirakan sekitar 1,5-2 jam bermobil untuk jarak sekitar 60-65 km. Bus dari Waingapu ke Melolo memakan waktu sedikit lebih dari 2 jam.

  • Dari Bandara Waingapu (WGP): sekitar 1,5-2 jam.
  • Dari Tambolaka (TMC): sekitar 4-5 jam dulu ke Waingapu; kunjungi dari basis di Sumba Timur.

Setibanya di sana, kampung-kampung di delta bisa dijelajahi dengan berjalan kaki selama beberapa jam. Pemandu lokal membantu memperkenalkan dan menerjemahkan. Di perjalanan, jalan pesisir antara Waingapu dan Melolo melewati sawah berpagar pohon kelapa dan, sekitar sejam di selatan Waingapu, danau dan rawa di tepi jalan di Menggitimbi, tempat yang baik untuk mengamati burung.

Kapan datang dan jam terbaik

  • Jam: pagi hari, saat penenun bekerja dan udara lebih sejuk.
  • Hari: Senin sampai Sabtu; hari Minggu biasanya untuk gereja dan keluarga.
  • Musim: musim kemarau (kira-kira Mei-November di timur) membuat jalan lebih mudah. Kegiatan menenun berlangsung sepanjang tahun.

Tips dan etika

  • Sumbangan: tidak ada tiket. Jika ada buku tamu, isi dan beri sumbangan, biasanya sekitar Rp 20.000-50.000 per orang (2025-2026), atau lebih jika ada yang meluangkan waktu menjelaskan pekerjaannya.
  • Lihat, jangan sentuh: jangan memegang alat tenun atau kain yang sedang dikerjakan tanpa izin. Sebagian teknik dijaga ketat, jadi terimalah jika Anda tidak diizinkan memotret suatu motif.
  • Membeli: kain pahikung dan ikat berpewarna alami dibuat sangat lama, jadi harganya tinggi dan wajar. Belilah langsung dari penenun bila memungkinkan.
  • Hormat: minta izin sebelum memotret orang, jangan menginjak kubur, dan berpakaian sopan.
  • Keselamatan: ada buaya di Sungai Melolo. Jangan berenang di sungai atau di muaranya.

Tempat terdekat

  • Rende, kampung raja dengan kubur megalitik sekitar 7 km di selatan Melolo.
  • Air Terjun Waimarang, kolam toska di hutan, di pedalaman Melolo.
  • Pantai Walakiri, di jalan pesisir kembali ke Waingapu.
  • Prailiu, kampung tenun bangsawan di Waingapu.

Latar belakang lebih lengkap ada di panduan kami tentang Marapu, tenun ikat, dan kampung adat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kampung Pau terkenal karena apa?

Tenun halus, terutama pahikung, teknik lungsi tambahan yang menghasilkan motif timbul, dibuat oleh para perempuan bekas wilayah kerajaan Umalulu.

Bagaimana cara ke Pau dari Waingapu?

Berkendara ke tenggara lewat jalan pesisir menuju Melolo, sekitar 60-65 km dan 1,5-2 jam. Pau dicapai tepat sebelum jembatan Sungai Melolo.

Apakah ada tiket masuk di Pau?

Tidak ada tiket. Berikan sumbangan, biasanya sekitar Rp 20.000-50.000 per orang, terutama jika ada yang menunjukkan hasil tenunnya.

Bisakah Pau dan Rende dikunjungi dalam sehari?

Bisa. Rende sekitar 7 km di selatan Melolo, jadi keduanya cocok untuk perjalanan sehari dari Waingapu, dengan Air Terjun Waimarang sebagai tambahan.

Tempat dalam panduan ini

Peta Sumba: tempat-tempat dalam panduan kami →

Merencanakan perjalanan ke Sumba? Panduan gratis kami membahas waktu terbaik, transportasi, biaya, keamanan dan budaya. Rencanakan perjalanan →

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Berita terkait

Patung batu berukir menghadap laut di Pantai Padadita, Waingapu, Sumba Timur.

Wisata

Kosakata berguna di Sumba: bahasa daerah dan ungkapan untuk wisatawan

Bahasa Indonesia dipahami di seluruh Sumba, tetapi beberapa kata dalam bahasa Kambera atau Weyewa dan sapaan yang tepat akan membuat Anda disambut sebagai tamu, bukan sekadar turis.

· 8 menit baca

Wisata

Sumba Tengah: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Kabupaten yang biasanya hanya dilintasi ini menyimpan kubur batu terbesar di Sumba, air terjun di tengah hutan dan kampung-kampung tenang di dataran Anakalang. Inilah alasan untuk singgah.

· 4 menit baca

Wisata

Sumba Barat Daya: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Bandara, danau air asin, kampung beratap menjulang di Kodi dan Pasola bulan Februari: kebanyakan perjalanan dimulai di Sumba Barat Daya. Begini gambarannya.

· 5 menit baca