· Berita baru setiap pagi pukul 06.00 waktu Sumba (WITA) ⚲ CariENESID
The Sumba Times
Berita, budaya, dan perjalanan dari Pulau Sumba, Indonesia

Budaya

Marapu, ikat, dan kampung adat: panduan menghormati budaya Sumba

Atap ilalang yang menjulang, makam batu yang masih digunakan, dan kain yang ditenun ratusan jam.

Redaksi The Sumba TimesTerbit 1 menit baca
Rumah beratap menara dan kubur batu di Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya.
Rumah beratap menara dan kubur batu di Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya. Foto: Allwyn Wawyn (CC BY-SA 4.0)

Sumba adalah salah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang kepercayaan leluhurnya masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namanya Marapu.

Marapu

Dalam Marapu, para leluhur tetap hadir di dunia orang hidup dan harus dihormati dengan persembahan dan upacara. Batu, pohon, dan mata air dapat menjadi tempat tinggal roh. Marapu menuntun masa tanam, pernikahan, dan penyelesaian sengketa. Perkiraan jumlah penganutnya berbeda-beda, dari sekitar seperempat hingga lebih dari sepertiga penduduk, terutama di kampung adat di bagian barat dan tengah.

Kampung adat

  • Praijing (Sumba Barat): makam batu dan rumah beratap tinggi meruncing (uma mbatangu).
  • Waitabar (Sumba Barat): kampung di atas bukit dengan makam dan homestay.
  • Tarung (dekat Waikabubak): kampung besar dengan puluhan makam megalitik dan komunitas Marapu yang aktif.
  • Ratenggaro (Sumba Barat Daya): atap sangat tinggi dan makam menghadap samudra. Ramai dikunjungi, jadi datanglah pagi.

Tenun ikat

Ikat Sumba adalah kain yang dibuat dengan mengikat dan mewarnai benang sebelum ditenun. Pewarna tradisionalnya dari nila, akar mengkudu (merah), dan kunyit (kuning). Para perempuan menenun dengan alat tenun gedogan, dan satu kain yang baik bisa memakan waktu 200 sampai 400 jam. Sumba Timur dikenal dengan motif yang lebih gelap dan padat. Kain terbaik dipakai dalam upacara, diberikan dalam pernikahan, dan dikuburkan bersama orang yang meninggal.

Berkunjung dengan hormat

  • Ini rumah, bukan museum. Minta izin sebelum masuk dan sebelum memotret.
  • Banyak kampung meminta sumbangan kecil atau tiket masuk. Bayarlah dengan senang hati.
  • Belilah ikat langsung dari penenunnya bila memungkinkan. Itu cara paling adil untuk menjaga kerajinan ini tetap hidup.
  • Pemandu lokal membantu soal bahasa dan adat, dan bisa menjelaskan apa yang Anda lihat.
Merencanakan perjalanan ke Sumba? Panduan gratis kami membahas waktu terbaik, transportasi, biaya, keamanan dan budaya. Rencanakan perjalanan →
Sumber
  1. Topologica, Sumba island guide

Menemukan kesalahan? Tulis ke info@ecobeachcity.com.

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Berita terkait

Sirih, pinang, dan kapur yang disuguhkan kepada tamu di Sumba Timur.

Budaya

Makanan khas Sumba: kuliner lokal, pasar tradisional, dan kopi

Jagung dan nasi, katemak manis, ikan bakar di dekat pelabuhan, sirih pinang di setiap beranda, dan robusta juara nasional: panduan praktis makan enak dan sopan di Sumba.

· 7 menit baca
Benang tenun ikat dijemur setelah dicelup pewarna, Sumba.

Budaya

Tenun ikat Sumba: cara membuat, makna motif, dan tempat membeli langsung dari penenun

Satu lembar hinggi bisa memakan waktu hampir setahun, dan setiap kuda, udang, dan pohon tengkorak di atasnya punya cerita. Begini cara membacanya, melihat proses tenunnya, dan membelinya secara adil.

· 8 menit baca
Kuda Sandelwood merumput bebas di padang rumput Sumba, tempat para pemilik melepas kudanya untuk mencari makan.

Budaya

Kuda Sumba: kuda Sandelwood, Pasola, dan budaya berkuda

Kecil, cepat, dan sakral: mengapa kuda Sandelwood hadir di setiap pernikahan, pemakaman, dan pesta adat Sumba, serta cara melihat kuda-kuda ini tanpa mengganggu.

· 6 menit baca