Budaya
Kuda Sumba: kuda Sandelwood, Pasola, dan budaya berkuda
Kecil, cepat, dan sakral: mengapa kuda Sandelwood hadir di setiap pernikahan, pemakaman, dan pesta adat Sumba, serta cara melihat kuda-kuda ini tanpa mengganggu.

Kuda Sandelwood (Sandalwood pony) adalah rumpun kuda asli Sumba: kuda poni kecil (sekitar 12-13 hand, kira-kira 120-130 cm), tangguh, dan cepat, yang dinamai dari kayu cendana yang dulu diekspor pulau ini dan memiliki darah kuda Arab. Kuda menjadi pusat kehidupan orang Sumba: bagian dari belis (mas kawin), dikorbankan saat pemakaman untuk mengantar arwah ke alam baka, serta ditunggangi dalam Pasola dan pacuan kuda. Wisatawan bisa melihatnya merumput di sabana dan pantai, sebaiknya bersama pemandu lokal dan selalu dengan izin pemilik sebelum menyentuh, menunggang, atau memotret dari dekat.
- Rumpun
- Kuda Sandelwood (sebutan lokal ndara), asli Sumba dan Sumbawa
- Ukuran
- Sekitar 12-13 hand (kira-kira 120-130 cm), sekitar 250 kg
- Nama
- Dari kayu cendana, komoditas ekspor bersejarah pulau ini
- Status resmi
- Salah satu dari delapan rumpun kuda asli resmi Indonesia (ditetapkan 2014)
- Peran budaya
- Belis (mas kawin), kurban pemakaman, Pasola, pacuan kuda
- Tempat melihat
- Sabana dan pantai Sumba Timur; lapangan Pasola pada Feb-Mar
Sore hari di padang rumput Sumba Timur. Bukit-bukit berubah keemasan, angin menyisir rumput kering, dan sekawanan kecil kuda bergerak pelan di lereng: seekor betina krem, seekor cokelat, seekor belang dengan surai pucat, kepala menunduk, ekor mengibas. Lebih ke bawah, di tepi pantai, seorang anak laki-laki menunggang tanpa pelana ke air dangkal untuk memandikan kudanya, dan keduanya berdiri diam di bawah matahari rendah seolah tak ada hal lain di dunia ini.
Di Sumba, kuda bukan atraksi wisata. Kuda adalah kekayaan, keluarga, alat angkut, ritual, dan kebanggaan. Di Sumba Timur kuda disebut ndara, dan kedudukannya digambarkan hampir setara dengan arwah leluhur. Jika ingin memahami pulau ini, mulailah dari kudanya: kuda Sandelwood, rumpun kecil yang sudah dipelihara di sini selama berabad-abad dan masih hadir di setiap momen penting kehidupan orang Sumba.
Apa itu kuda Sandelwood?
Kuda Sandelwood adalah rumpun kuda asli Indonesia dari Pulau Sumba dan Sumbawa. Tingginya biasanya 12-13 hand (sekitar 122-132 cm), sementara sumber Indonesia menyebut tinggi dewasa kira-kira 110-130 cm, dengan bobot sekitar 250 kg. Warna bulunya hampir apa saja: cokelat, merah, hitam, abu-abu, krem, dan belang semuanya umum. Deskripsi rumpun ini menonjolkan kepala yang indah dengan telinga kecil, leher pendek berotot, dada dalam, dan daya tahan tinggi, serta menyebutnya cepat dan mudah dikendalikan. Indonesia mengakui Sandelwood sebagai salah satu dari delapan rumpun kuda asli resmi; penetapannya sebagai rumpun dilakukan lewat keputusan Menteri Pertanian pada 2014.
Air Surut, setiap Minggu
Satu surat singkat setiap minggu tentang hidup yang baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.
Email Anda hanya dipakai untuk mengirim surat. Berhenti berlangganan dengan satu klik.Namanya berasal dari kayu cendana (sandalwood), kayu harum yang dulu menutupi pulau ini dan membuat Sumba terkenal di kalangan pedagang, sampai-sampai lama dikenal sebagai Pulau Cendana. Kuda dan kayu berjalan bersama: kuda-kuda poni mengangkut kayu melintasi dataran kering, dan keduanya menjadi komoditas ekspor yang dicari.
Sejarah singkat kuda di Sumba
Tidak ada yang tahu pasti kapan kuda pertama tiba di kepulauan Nusa Tenggara, dan sumber-sumber memberi versi yang sedikit berbeda. Gambaran besarnya begini:
- Akar Asia. Kuda Indonesia diduga berasal dari kuda tipe Mongol yang masuk ke Nusantara selama berabad-abad lewat Jawa dan perdagangan laut. Seorang ahli kuda yang dikutip Al Jazeera merangkum sebuah cerita lokal: pedagang Tionghoa menukar kuda poni dengan kayu cendana.
- Darah Arab. Kemudian kuda Arab yang datang lewat perdagangan laut dikawinkan dengan kuda lokal, sehingga Sandelwood sering disebut sebagai salah satu kuda poni terbaik di Indonesia.
- Pulau pedagang. Catatan Belanda tahun 1890 menyebut para bangsawan Sumba sudah memperdagangkan kuda ke pulau lain setidaknya sejak 1840, sebagian besar lewat pelabuhan Waingapu.
- Persilangan masa kolonial. Pada abad ke-19, di bawah pemerintahan Belanda, kuda Eropa didatangkan dan disilangkan dengan kuda Sumba untuk menghasilkan kuda yang lebih besar, dan Belanda memperkenalkan pacuan di lintasan pada tahun 1930-an.
- Masa kini. Peternak menyilangkan kuda betina Sandelwood dengan kuda Thoroughbred Australia yang lebih besar untuk menghasilkan kuda pacu yang lebih cepat. Akibatnya, Sandelwood murni makin sulit ditemukan. Pendataan provinsi tahun 2018 mencatat 32.983 ekor kuda Sandelwood dan kuda silangan, tanpa pemisahan yang jelas, dan Dinas Peternakan Sumba Timur menyebut kuda murni kini hanya ditemukan secara sporadis di daerah tertentu. Kekeringan parah pada 2019 juga membunuh banyak kuda. Pemerintah menetapkan Kecamatan Matawai La Pawu di Sumba Timur sebagai wilayah sumber bibit untuk menjaga galur murninya.
Kuda dalam kehidupan orang Sumba: belis, pemakaman, dan Marapu
Belis atau mas kawin
Ketika seorang pria Sumba menikah, keluarganya memberikan belis kepada keluarga perempuan, yaitu mas kawin dengan kuda sebagai salah satu unsur utamanya. Kuda dalam belis bukan sekadar pembayaran: kuda mengikat persekutuan antara dua kabisu (klan), dan kedudukan sebuah keluarga di masyarakat sejak lama terkait dengan berapa banyak kuda bagus yang dimilikinya. Jumlah pastinya tergantung keluarga, klan, dan status mempelai perempuan, dan perundingannya bisa berlangsung lama. Pada masa lalu, kuda juga diberikan sebagai tanda perdamaian antarsuku.
Pemakaman dan perjalanan arwah
Dalam kepercayaan Marapu, agama asli yang masih dianut di Sumba berdampingan dengan Kristen dan Islam, kuda adalah kendaraan yang membawa arwah orang meninggal ke dunia leluhur. Dalam pemakaman penting, keluarga dapat mengorbankan seekor kuda, sering kali yang terbaik, agar almarhum dapat terus berkuda menuju alam baka. Tradisi setempat menyebut para leluhur sendiri dulu berkendara kuda. "Kuda selalu ada dalam setiap upacara adat Sumba," kata seorang budayawan Sumba Timur kepada Mongabay. Untuk mengenal Marapu lebih jauh, baca Marapu, tenun ikat, dan kampung adat.
Kuda tanpa nama
Satu hal yang mengejutkan banyak pengunjung: secara tradisional kuda Sumba tidak diberi nama pribadi, karena memberi nama dianggap merendahkan hewan yang begitu dihormati. Pemilik mengenali kudanya dari warna, tanda, dan wataknya.
Pasola: perang ritual berkuda di Sumba
Ungkapan paling terkenal dari budaya kuda Sumba adalah Pasola. Setiap tahun, biasanya pada Februari di Kodi dan Lamboya serta Maret di Wanukaka dan Gaura, ratusan penunggang kuda Sandelwood memacu kudanya tanpa pelana di lapangan terbuka dalam dua kelompok dan saling melempar lembing kayu. Tanggalnya ditentukan oleh para Rato, tetua adat yang membaca kemunculan cacing laut nyale di pantai. Kini ujung lembing sudah tumpul, tetapi penunggang masih bisa jatuh dan cedera. Dalam pandangan Marapu, darah yang tumpah ke tanah membantu menyuburkan lahan untuk panen berikutnya. Pasola adalah ritual keagamaan lebih dulu baru kemudian tontonan, jadi berpakaianlah sopan, berdiri jauh di belakang barisan penonton, dan ikuti arahan panitia. Panduan lengkap kami: penjelasan tentang Pasola.
Pacuan kuda dan festival
Setelah Pasola, pacuan kuda adalah acara berkuda paling digemari di Sumba. Beberapa kejuaraan digelar setiap tahun di arena pacuan di berbagai wilayah pulau, dan pacuan tanpa pelana bisa menempuh jarak jauh, terkadang lebih dari 4,8 km. Jokinya sering masih sangat muda; Al Jazeera melaporkan anak-anak berusia delapan tahun ikut pacuan di pantai, dan para ahli kesejahteraan kuda memperingatkan bahwa sebagian kuda silangan dipacu terlalu dini. Jika menonton, nikmati keramaian dan warnanya, tetapi jaga jarak aman dari lintasan.
Sumba juga pernah menggelar Parade 1001 Kuda Sandelwood, festival kuda berhias dan penunggang berbusana adat. Pada 2017 acara ini berlangsung 3-10 Juli, berpindah dari Waingapu, Anakalang, Waikabubak, hingga Tambolaka, bersamaan dengan festival tenun ikat; parade juga pernah digelar di Pantai Walakiri, Sumba Timur. Tanggal dan formatnya berubah dari tahun ke tahun, jadi cek berita lokal sebelum merencanakan perjalanan.
Cara melihat kuda Sumba dengan hormat
Anda akan melihat kuda di mana-mana di Sumba: merumput di sabana Sumba Timur, diikat di halaman kampung, menyeberang jalan, dan yang paling fotogenik, berjalan di sepanjang pantai saat matahari terbit dan terbenam. Setiap ekor ada pemiliknya. Beberapa aturan sederhana sangat berarti:
- Lihat, jangan sentuh. Jangan mendekati, mengelus, memberi makan, atau mencoba menunggang kuda tanpa izin pemilik. Kuda poni kecil bisa menendang, dan kuda adalah harta berharga bagian dari kekayaan keluarga.
- Minta izin sebelum memotret penunggang. Senyum dan isyarat ke arah kamera biasanya cukup. Jika ada yang meminta tip kecil untuk berpose di pantai, wajar untuk membayar atau menolak dengan sopan lalu pergi.
- Jauhkan drone. Drone membuat kuda takut dan bisa menyebabkan kecelakaan bagi penunggang dan anak-anak.
- Jangan berdiri di belakang kuda atau di antara induk dan anaknya, dan beri jalan kepada penunggang di jalan setapak dan pantai.
- Pilih wisata berkuda dengan cermat. Jika ingin menunggang, pergilah bersama pemandu lokal yang mengenal pemiliknya, pastikan kudanya tampak sehat, dan hindari situasi di mana kuda yang lelah atau terlalu muda dipaksa bekerja.
- Hormati hewan ritual. Dalam pemakaman atau upacara, kuda mungkin disiapkan untuk dikorbankan. Jangan ikut campur, dan tanyakan kepada pemandu apakah pantas untuk tetap tinggal atau memotret.
Tempat terbaik untuk melihat kuda yang dilepas bebas adalah perbukitan dan sabana terbuka di Sumba Timur, dataran pesisir dekat Waingapu, dan pantai seperti Walakiri, terutama di musim kemarau (kira-kira Mei sampai September) saat rumput berubah keemasan. Untuk ide pesisir lainnya lihat pantai, laguna, dan air terjun, dan untuk memilih waktu baca waktu terbaik ke Sumba.
Rencanakan kunjungan Anda
Untuk menyaksikan Pasola, datanglah pada Februari atau Maret dan menginap di Sumba Barat atau Sumba Barat Daya, masuk lewat Tambolaka. Untuk melihat kuda di sabana dan pantai, habiskan beberapa hari di Sumba Timur, masuk lewat Waingapu. Seminggu cukup untuk keduanya; itinerary Sumba 5, 7, atau 10 hari kami menunjukkan caranya. Untuk transportasi dan anggaran, lihat cara berkeliling Sumba dan biaya perjalanan ke Sumba. Dan untuk simbol besar lain dari identitas Sumba, jangan lewatkan panduan kami tentang tenun ikat Sumba dan tempat membelinya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu kuda Sandelwood?
Rumpun kuda asli Sumba dan Sumbawa yang kecil, tangguh, dan cepat, biasanya sekitar 12-13 hand (kira-kira 120-130 cm). Namanya berasal dari kayu cendana yang dulu diekspor pulau-pulau ini, dan leluhurnya memiliki darah kuda Arab.
Mengapa kuda begitu penting di Sumba?
Kuda adalah kekayaan dan status. Kuda menjadi bagian dari belis (mas kawin) dalam pernikahan, dikorbankan saat pemakaman untuk mengantar arwah kepada leluhur menurut kepercayaan Marapu, serta ditunggangi dalam Pasola dan pacuan kuda.
Berapa ekor kuda untuk belis di Sumba?
Tidak ada jumlah pasti. Tergantung keluarga, kabisu (klan), dan status mempelai perempuan, dan dirundingkan antara kedua keluarga.
Di mana bisa melihat kuda di pantai Sumba?
Kuda mudah dijumpai di pantai dan sabana Sumba Timur, misalnya di sekitar Waingapu dan Pantai Walakiri, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Semua kuda ada pemiliknya, jadi minta izin sebelum mendekat atau memotret penunggang dari dekat.
Bisakah wisatawan menunggang kuda di Sumba?
Bisa, melalui pemandu lokal yang mengenal pemiliknya. Pastikan kudanya tampak sehat, hindari kuda yang terlalu muda atau kelelahan, dan jangan pernah menunggang kuda yang Anda temui di pantai tanpa izin pemiliknya.
Kapan Pasola digelar?
Biasanya Februari (Kodi dan Lamboya) dan Maret (Wanukaka dan Gaura). Tanggal pastinya ditentukan setiap tahun oleh para Rato berdasarkan kemunculan cacing laut nyale.
Tempat dalam panduan ini
- Walakiri Beach · Pandawai, East Sumba · Buka di peta
- Sandalwood Pony, Wikipedia
- A ride to heaven: Why Sumba loves the Sandalwood pony, Al Jazeera, 11 June 2021
- Kuda Sumba, warisan alam Tanah Marapu yang semakin menghilang, Mongabay Indonesia, 8 December 2019
- Di Sumba kuda adalah segalanya, tapi ras aslinya semakin sulit ditemukan, Mongabay Indonesia, June 2026
- Sandalwood ponies: meet Sumba's legendary horses of wealth, ritual and speed, SEAsia, 15 July 2026
- The unique 1001 Sandalwood Horses Festival on Sumba Island, Indonesia Travel (Ministry of Tourism)
- 1001 Sandalwood horse parade on Walakiri Beach, Sumba Island, Tempo English
- Sandalwood Pony, kuda pacu Sumba yang melegenda, Good News From Indonesia, 10 December 2020
Menemukan kesalahan? Tulis ke info@ecobeachcity.com.
Air Surut, setiap Minggu
Satu surat singkat setiap minggu tentang hidup yang baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.
Email Anda hanya dipakai untuk mengirim surat. Berhenti berlangganan dengan satu klik.

