· Berita baru setiap pagi pukul 06.00 waktu Sumba (WITA) ⚲ CariENESID
The Sumba Times
Berita, budaya, dan perjalanan dari Pulau Sumba, Indonesia

Wisata

Kampung Adat Praijing, Sumba: cara berkunjung dan hal yang perlu diketahui

Teras-teras atap alang-alang menjulang di bukit dekat Waikabubak, kampung Marapu yang hidup dan kini mengelola wisatanya sendiri.

Redaksi The Sumba TimesTerbit 3 menit baca
Kabut pagi di lembah di balik atap-atap alang-alang tinggi Kampung Praijing, Sumba Barat.
Kabut pagi di lembah di balik atap-atap alang-alang tinggi Kampung Praijing, Sumba Barat. Foto: Fakhri Anindita (CC BY-SA 4.0)
Jawaban singkat

Praijing (juga ditulis Prai Ijing) adalah kampung adat di Desa Tebara, sekitar 3 km dari pusat Waikabubak, Sumba Barat, terkenal dengan teras rumah beratap tinggi yang mengelilingi kubur batu megalitik. Jaraknya sekitar 45 km, kira-kira 1 jam bermobil, dari Bandara Tambolaka; pengunjung membayar retribusi atau kontribusi kecil, dan kampung menyediakan tur berpemandu, lokakarya tenun, serta homestay.

Fakta penting
Lokasi
Desa Tebara, sekitar 3 km dari pusat Waikabubak, Sumba Barat
Dari bandara terdekat
Tambolaka (TMC): sekitar 45 km, kira-kira 1 jam bermobil
Waktu terbaik
Musim kemarau (sekitar Mei-September), pagi hari
Tiket
Retribusi atau kontribusi; tur berpemandu sekitar Rp 250.000-430.000 (2026)
Cocok untuk
Arsitektur, budaya Marapu, tenun ikat, homestay

Pagi buta di bukit Praijing. Kabut masih menggantung di lembah di bawah Waikabubak, asap kayu bakar merembes dari bawah atap, dan cahaya pertama menyentuh puncak-puncak menara alang-alang yang menjulang jauh di atas rumah seperti tangan terangkat. Ayam mengais di antara kubur batu di halaman tengah, seorang ibu menyiapkan alat tenun di beranda, dan di kolong salah satu rumah seekor babi menggerutu. Ini rumah orang sebelum menjadi objek wisata, dan salah satu kampung terindah di pulau ini.

Praijing, juga ditulis Prai Ijing, termasuk Desa Tebara di Kecamatan Kota Waikabubak, Sumba Barat. Rumah-rumahnya naik bertingkat di lereng bukit mengelilingi kubur megalitik dan pelataran batu, dan cukup dekat dari kota sehingga bisa dikunjungi dalam satu atau dua jam.

Apa itu Praijing dan mengapa layak dikunjungi

Praijing adalah kampung adat tempat para kabisu (marga) menjaga rumah leluhur, dan banyak keluarga masih memeluk Marapu, kepercayaan leluhur Sumba. Tulisan lokal menyebut kurang dari 50 rumah adat yang tersisa, yaitu yang selamat dari kebakaran pada tahun 2000. Setiap rumah berdiri di atas tiang dengan tiga tingkat: kolong untuk babi dan unggas, lantai hunian keluarga, dan menara tinggi di bawah atap untuk menyimpan pusaka dan bahan makanan. Tiang berukir menandai sisi laki-laki dan sisi perempuan, dan warga percaya arwah leluhur bersemayam pada bagian bulat di tiang utama.

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Yang membuat Praijing istimewa sekarang adalah kampung ini mengelola wisatanya sendiri. BUMDes mulai mengelola kunjungan pada Juli 2018, dan pada 2026 Desa Wisata Kampung Prai Ijing meraih ASEAN Sustainable Tourism Award. Liputan terbaru menyebut tur warisan budaya hingga tiga jam, tur sehari penuh, lokakarya tenun yang memperlihatkan seluruh proses dari benang hingga kain, serta homestay dengan makan. Uang Anda, setidaknya sebagian, sampai ke komunitas yang tinggal di rumah-rumah itu.

Untuk latar belakang Marapu, arsitektur rumah, dan etika berkunjung, baca panduan kami tentang Marapu, ikat, dan kampung adat.

Cara ke Praijing

  • Dari Bandara Tambolaka (TMC): sekitar 45 km lewat jalan raya, kira-kira 1 jam bermobil melalui Waikabubak.
  • Dari Waikabubak: sekitar 3 km dari pusat kota, 10-20 menit dengan mobil atau ojek. Sebagian pelancong berjalan kaki dari kota melewati kampung-kampung di selatan jalan ke Waingapu.
  • Dari Waingapu (WGP): sekitar 135 km, realistisnya 3,5-4,5 jam bermobil, jadi lebih cocok sebagai bagian dari perjalanan lintas pulau daripada perjalanan sehari.

Ruas terakhir menanjak ke puncak bukit. Tidak ada angkutan umum reguler sampai gerbang, jadi kebanyakan pengunjung datang dengan sopir atau ojek dari Waikabubak.

Kapan berkunjung dan waktu terbaik

Musim kemarau, kira-kira Mei sampai September, memberi jalan paling andal dan langit cerah. Pagi hari paling indah: cahaya lembut di atap, udara sejuk dataran tinggi Waikabubak, dan kegiatan sehari-hari sedang berjalan. Sore hari juga bagus untuk foto. Sekitar November, komunitas di wilayah Waikabubak menjalani Wulla Poddu, masa sakral penuh ritual; pada masa ritual sebagian kegiatan atau area bisa tertutup bagi tamu, jadi tanyakan pemandu sebelum datang.

Tips dan etika

  • Biaya: siapkan retribusi kampung atau kontribusi yang dicatat di buku tamu. Paket berpemandu yang diberitakan pada 2026 sekitar Rp 250.000 per orang untuk tur warisan budaya hingga tiga jam dan sekitar Rp 430.000 untuk sehari penuh termasuk retribusi (kira-kira 13-23 euro atau 15-26 dolar AS). Homestay diberitakan sekitar Rp 300.000 per orang per malam termasuk tiga kali makan. Harga bisa berubah, jadi pastikan di lokasi.
  • Minta izin sebelum memotret, baik orang maupun rumah. Jangan naik ke kubur batu atau menyentuh benda ritual, altar, atau tiang rumah sakral.
  • Berpakaian sopan: bahu dan lutut tertutup. Sarung sangat praktis.
  • Jika anak-anak meminta permen atau uang: lebih baik memberi melalui orang tua, buku tamu, atau BUMDes, atau membeli tenun langsung dari para penenunnya.
  • Oleh-oleh kecil berupa sirih pinang adalah tanda hormat tradisional bila Anda dipersilakan masuk ke rumah.
  • Bawa uang tunai pecahan kecil; ATM tersedia di Waikabubak.

Tempat terdekat

Merencanakan hari-hari di Sumba? Lihat cara ke Sumba dari Bali dan tempat menginap di Sumba.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa jauh Praijing dari Waikabubak?

Sekitar 3 km dari pusat kota, 10-20 menit dengan mobil atau ojek. Dari Bandara Tambolaka sekitar 45 km, kira-kira 1 jam.

Apakah ada tiket masuk Kampung Praijing?

Pengunjung membayar retribusi kampung atau kontribusi di buku tamu. Tur berpemandu yang dikelola kampung pada 2026 sekitar Rp 250.000 hingga tiga jam dan sekitar Rp 430.000 sehari penuh. Harga bisa berubah.

Bisakah menginap di Praijing?

Bisa. Kampung menyediakan homestay, diberitakan sekitar Rp 300.000 per orang per malam termasuk tiga kali makan pada 2026.

Bolehkah memotret di Praijing?

Umumnya boleh, tetapi selalu minta izin dulu, untuk orang maupun rumah, dan jangan pernah naik ke kubur batu.

Tempat dalam panduan ini

Peta Sumba: tempat-tempat dalam panduan kami →

Merencanakan perjalanan ke Sumba? Panduan gratis kami membahas waktu terbaik, transportasi, biaya, keamanan dan budaya. Rencanakan perjalanan →

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Berita terkait

Patung batu berukir menghadap laut di Pantai Padadita, Waingapu, Sumba Timur.

Wisata

Kosakata berguna di Sumba: bahasa daerah dan ungkapan untuk wisatawan

Bahasa Indonesia dipahami di seluruh Sumba, tetapi beberapa kata dalam bahasa Kambera atau Weyewa dan sapaan yang tepat akan membuat Anda disambut sebagai tamu, bukan sekadar turis.

· 8 menit baca

Wisata

Sumba Tengah: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Kabupaten yang biasanya hanya dilintasi ini menyimpan kubur batu terbesar di Sumba, air terjun di tengah hutan dan kampung-kampung tenang di dataran Anakalang. Inilah alasan untuk singgah.

· 4 menit baca

Wisata

Sumba Barat Daya: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Bandara, danau air asin, kampung beratap menjulang di Kodi dan Pasola bulan Februari: kebanyakan perjalanan dimulai di Sumba Barat Daya. Begini gambarannya.

· 5 menit baca