· Berita baru setiap pagi pukul 06.00 waktu Sumba (WITA) ⚲ CariENESID
The Sumba Times
Berita, budaya, dan perjalanan dari Pulau Sumba, Indonesia

Wisata

Kampung Adat Ratenggaro, Sumba: cara berkunjung dengan hormat

Atap ilalang menjulang dan kubur batu berabad-abad di tepi laguna menghadap Samudra Hindia: cara ke Ratenggaro, apa yang perlu diberikan, apa yang dihindari dan kapan datang.

Redaksi The Sumba TimesTerbit 3 menit baca
Atap ilalang menjulang dan kubur batu megalitik di Ratenggaro, kampung Marapu di Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya.
Atap ilalang menjulang dan kubur batu megalitik di Ratenggaro, kampung Marapu di Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya. Foto: Allwyn Wawyn (CC BY-SA 4.0)
Jawaban singkat

Ratenggaro adalah kampung adat penganut Marapu di Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, terkenal dengan rumah beratap ilalang menjulang dan ratusan kubur batu megalitik di tepi laut. Jaraknya sekitar 50-56 km dari Tambolaka, kira-kira 1-1,5 jam bermobil lewat jalan yang sebagian besar beraspal. Pengunjung diharapkan mengisi buku tamu dan memberi donasi sekitar Rp 20.000 atau lebih per orang (2025-2026), minta izin sebelum memotret dan tidak pernah menyentuh kubur atau benda ritual.

Fakta penting
Lokasi
Desa Maliti Bondo Ate, Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya
Dari bandara terdekat
Tambolaka (TMC): sekitar 50-56 km, kira-kira 1-1,5 jam bermobil
Waktu terbaik
Sepanjang tahun; musim kemarau (sekitar Mei-September) agar jalan lebih mudah; cahaya pagi
Tiket masuk
Buku tamu dan donasi, sekitar Rp 20.000 atau lebih per orang (2025-2026)
Cocok untuk
Arsitektur tradisional, kubur megalitik, budaya Marapu, ikat

Atapnya yang pertama terlihat, di atas pohon kelapa: kerucut ilalang yang tinggi dan ramping menjulang dari rumah-rumah seperti lambung perahu terbalik, lebih gelap di puncaknya karena asap tungku merembes selama bertahun-tahun. Di bawahnya, lempeng batu ada di mana-mana, sebagian di atas tiang pendek, sebagian berukir, sebagian hijau berlumut. Ayam mengais di antara kubur, seorang perempuan menenun di bawah beranda, dan setelah rumah terakhir sungai membuka menjadi laguna toska lalu Samudra Hindia.

Ratenggaro adalah salah satu kampung adat yang paling banyak dikunjungi di Sumba, sekaligus rumah yang dihuni. Halaman ini menjelaskan apa yang Anda lihat, cara ke sana dan cara berkunjung yang meninggalkan kesan baik bagi wisatawan berikutnya.

Apa itu Ratenggaro dan mengapa layak dikunjungi

Ratenggaro (Kampung Adat Ratenggaro) berada di pesisir Desa Maliti Bondo Ate, Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, di satu sisi muara sungai. Warganya menganut Marapu, kepercayaan leluhur Sumba (baca Marapu, ikat, dan kampung adat). Namanya sering dijelaskan dari kata rate (kubur) dan garo, suku Garo, mengenang perang di masa lalu.

  • Rumahnya: rumah panggung dengan atap menara yang termasuk tertinggi di Sumba. Angkanya berbeda-beda, dari sekitar 15 m hingga sekitar 25-30 m menurut sumbernya; atap tinggi itu menjadi ruang bagi leluhur dan pusaka. Sebuah laporan media nasional menyebut empat rumah sakral saling berhadapan sesuai arah mata angin. Kampung ini dilaporkan pernah terbakar dan dibangun kembali dengan bantuan pemerintah.
  • Kubur batunya: kubur megalitik besar berdiri di dalam kampung dan di sepanjang pantai. Sebuah laporan media nasional mencatat sekitar 304 kubur batu, termasuk milik para pendiri. Sebagian berjajar di pesisir sekitar 500 m dari rumah-rumah.
  • Lokasinya: sedikit kampung di Sumba yang sedekat ini dengan laut. Di seberang muara terlihat atap-atap Wainyapu.

Cara ke Ratenggaro

Ratenggaro berjarak sekitar 50-56 km dari Tambolaka, ke arah barat daya. Siapkan kira-kira 1-1,5 jam bermobil lewat jalan yang sebagian besar beraspal, lebih lama bila banyak berhenti.

  • Dari Tambolaka (TMC): mobil dengan sopir, sekitar Rp 1.000.000-1.500.000 (kira-kira 50-75 euro atau 60-90 dolar AS) per hari pada 2025-2026; harga bervariasi. Pemandu atau sopir lokal yang mengenal keluarga di sana membuat kunjungan lebih mudah dan bermakna.
  • Angkutan umum: minibus bersama dari Waitabula ke Bondo Kodi, lalu ojek untuk bagian terakhir.
  • Jalan kaki dari Pero: sekitar 40 menit menyusuri pantai dari Pero.
  • Dari Waingapu (WGP): sekitar 4-6 jam lewat darat ke Tambolaka lebih dulu; rencanakan menginap di wilayah barat.

Kapan datang dan jam terbaik

Bisa dikunjungi sepanjang tahun, tetapi musim kemarau (sekitar Mei sampai September) membuat jalan lebih mudah. Cahaya pagi lembut di atap-atap, dan kunjungan sore bisa digabung dengan senja di pantai terdekat. Pada Februari Pasola Kodi digelar di kawasan ini; tanggalnya ditetapkan para Rato mengikuti kemunculan nyale, jadi pastikan kepada warga (baca penjelasan tentang Pasola). Jika sedang ada upacara kematian atau ritual, tanyakan dulu apakah tamu diperbolehkan masuk.

Tips dan etika

  • Donasi: isi buku tamu dan beri kontribusi, sekitar Rp 20.000 per orang atau lebih (kira-kira 1,20 euro atau dolar AS) pada 2025-2026. Bisa ada biaya kecil tambahan untuk mencoba pakaian adat atau masuk ke rumah. Pada Mei 2025 video wisatawan yang dimintai uang secara paksa di sini viral, dan Pemprov NTT menyatakan akan membentuk pokdarwis untuk mengelola pungutan; berikan lewat buku tamu atau orang yang jelas mewakili kampung, bukan kepada siapa saja yang meminta.
  • Anak-anak: anak-anak mungkin meminta uang atau permen. Lebih baik memberi lewat buku donasi, atau membawa alat tulis untuk diserahkan kepada orang dewasa.
  • Sirih pinang: membawa sedikit sirih pinang adalah salam adat yang dihargai.
  • Hormati kampung: ini rumah, bukan museum. Minta izin sebelum memotret orang atau masuk rumah, berpakaian sopan, dan jangan duduk, memanjat atau menyentuh kubur batu maupun benda ritual.
  • Keselamatan: jangan berenang di muara: papan peringatan buaya di sini perlu ditanggapi serius. Berenang di laut hanya saat tenang.
  • Belanja: warga menjual kain ikat dan ukiran kecil, biasanya tanpa memaksa. Membeli langsung adalah cara baik mendukung warga.

Tempat terdekat

  • Kampung Wainyapu: di seberang muara, salah satu kampung terbesar di Kodi.
  • Pantai Pero: kampung nelayan dan senja, sekitar 6 km ke barat laut.
  • Danau Weekuri: untuk berenang, sekitar 45 menit sampai satu jam ke utara.
  • Kodi: wilayahnya, warganya, dan Pasola.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa biaya berkunjung ke Kampung Ratenggaro?

Tidak ada tiket tetap. Pengunjung mengisi buku tamu dan memberi donasi, sekitar Rp 20.000 per orang atau lebih pada 2025-2026, dengan biaya kecil tambahan untuk mencoba pakaian adat atau masuk rumah.

Seberapa tinggi atap rumah di Ratenggaro?

Termasuk yang tertinggi di Sumba. Sumber menyebut angka sekitar 15 m hingga sekitar 25-30 m.

Bolehkah memotret di Ratenggaro?

Boleh memotret kampung dan atapnya, tetapi minta izin sebelum memotret orang atau masuk rumah, dan jangan memanjat atau duduk di atas kubur batu.

Apakah bisa berenang di Ratenggaro?

Jangan di muara, karena ada peringatan buaya. Pantai lautnya hanya untuk hari yang tenang.

Berapa jarak Ratenggaro dari Tambolaka?

Sekitar 50-56 km, kira-kira 1-1,5 jam bermobil lewat jalan yang sebagian besar beraspal.

Tempat dalam panduan ini

Peta Sumba: tempat-tempat dalam panduan kami →

Merencanakan perjalanan ke Sumba? Panduan gratis kami membahas waktu terbaik, transportasi, biaya, keamanan dan budaya. Rencanakan perjalanan →

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Berita terkait

Patung batu berukir menghadap laut di Pantai Padadita, Waingapu, Sumba Timur.

Wisata

Kosakata berguna di Sumba: bahasa daerah dan ungkapan untuk wisatawan

Bahasa Indonesia dipahami di seluruh Sumba, tetapi beberapa kata dalam bahasa Kambera atau Weyewa dan sapaan yang tepat akan membuat Anda disambut sebagai tamu, bukan sekadar turis.

· 8 menit baca

Wisata

Sumba Tengah: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Kabupaten yang biasanya hanya dilintasi ini menyimpan kubur batu terbesar di Sumba, air terjun di tengah hutan dan kampung-kampung tenang di dataran Anakalang. Inilah alasan untuk singgah.

· 4 menit baca

Wisata

Sumba Barat Daya: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Bandara, danau air asin, kampung beratap menjulang di Kodi dan Pasola bulan Februari: kebanyakan perjalanan dimulai di Sumba Barat Daya. Begini gambarannya.

· 5 menit baca