· Berita baru setiap pagi pukul 06.00 waktu Sumba (WITA) ⚲ CariENESID
The Sumba Times
Berita, budaya, dan perjalanan dari Pulau Sumba, Indonesia

Wisata

Air Terjun Matayangu, Sumba: menembus hutan dan hal yang perlu diketahui

Air terjun 75 m yang keluar dari gua ke kolam hijau kebiruan, hanya bisa dicapai berjalan kaki menembus salah satu hutan dataran rendah terakhir di Sumba.

Redaksi The Sumba TimesTerbit 3 menit baca
Jawaban singkat

Matayangu adalah air terjun setinggi sekitar 75 m di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, dekat Desa Waimanu, Sumba Tengah, dengan air terjun kedua yang lebih tinggi dan hanya mengalir di musim hujan. Jaraknya sekitar 20-25 km dari Waikabubak, kira-kira 1-1,5 jam bermobil di jalan yang kurang baik, lalu trekking hutan yang berat sekitar 1-1,5 jam sekali jalan. Pergilah bersama pemandu lokal, di musim kemarau (kira-kira Mei-Oktober) agar jalur lebih mudah, dan hormati tempat ini sebagai situs sakral Marapu.

Fakta penting
Lokasi
Desa Waimanu, Sumba Tengah, di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Dari bandara terdekat
Tambolaka (TMC): sekitar 65 km, 2-2,5 jam ke titik awal, lalu trekking 1-1,5 jam
Waktu terbaik
Musim kemarau (sekitar Mei-Oktober), berangkat pagi
Tiket
Pemandu lokal sekitar Rp 50.000-100.000 per rombongan; tiket taman nasional tidak selalu ditarik
Cocok untuk
Pendaki bugar, burung hutan, air terjun sakral yang masih liar

Jalur dimulai di padang rumput tinggi lalu masuk ke hutan yang begitu rapat sampai cahaya berubah hijau. Akar dan batu kapur tajam di bawah kaki, dengung serangga, kepak sayap julang di atas kanopi. Lalu, setelah anak tangga curam terakhir, suara deru datang dan hutan terbuka di depan tebing tempat tiang air putih memancar dari batu ke kolam berwarna giok. Bagi banyak pelancong inilah air terjun paling berkesan di Sumba, justru karena sulit dicapai.

Apa itu Matayangu dan mengapa layak dikunjungi

Matayangu (juga ditulis Mata Yangu) berada di Desa Waimanu, wilayah Katikutana, Sumba Tengah, di dalam Taman Nasional Manupeu Tanah Daru. Air terjun utamanya mengalir sepanjang tahun setinggi sekitar 75 m dari sungai yang keluar dari gua; di musim hujan muncul air terjun kedua sekitar 130 m di sampingnya. Ia berada di aliran air yang sama dengan Lapopu, sekitar 2 km di hulu.

Komunitas Marapu setempat menganggap air terjun ini sakral. Liputan dari Sumba Tengah menyebut kepercayaan bahwa arwah leluhur bersemayam di sini, bahwa gua di sumber air menyimpan makam kuno, dan bahwa dasar kolamnya tak pernah tercapai. Namanya sering diartikan "mata air kehidupan" atau "tempat arwah leluhur". Hutan di sepanjang jalur adalah habitat julang sumba dan kakatua sumba yang terancam punah.

Cara ke Matayangu

  • Dari Waikabubak: sekitar 20-25 km, tetapi sediakan kira-kira 1-1,5 jam bermobil: jalannya sempit dan papan petunjuk membingungkan, jadi tanyakan arah atau datang dengan sopir yang tahu jalan.
  • Dari Bandara Tambolaka (TMC): sekitar 65 km, kira-kira 2-2,5 jam sampai titik awal trekking lewat Waikabubak.
  • Dari Waingapu (WGP): sekitar 130 km, realistisnya 3,5-4,5 jam sampai titik awal, jadi rencanakan menginap di Sumba Barat atau Sumba Tengah.

Di ujung jalan, pemandu lokal menunggu dekat rumah-rumah terakhir. Trekking diawali sekitar 1,5 km jalan datar yang sering berlumpur menembus rerumputan sampai pondok kecil, lalu masuk hutan dengan naik turun curam di jalur sempit tanpa penanda dan batu kapur tajam, dan diakhiri anak tangga panjang (satu sumber menghitung lebih dari 500 anak tangga) turun ke kolam. Perkirakan 1-1,5 jam sekali jalan, lebih lama bila basah, dan sekitar 4-5 jam untuk seluruh perjalanan.

Kapan berkunjung dan waktu terbaik

Musim kemarau, kira-kira Mei sampai Oktober, memberi jalur paling mudah dan tidak licin serta air paling jernih untuk berenang. Musim hujan (kira-kira Desember sampai Maret) memunculkan air terjun kedua yang lebih tinggi dan tirai air yang besar, tetapi jalur menjadi berlumpur, lambat, lebih berbahaya, dan banyak pacet. Berangkatlah pagi: hutan lebih sejuk dan Anda sudah kembali sebelum panas atau hujan sore datang.

Tips dan etika

  • Sewa pemandu lokal di ujung jalan: jalurnya tidak bertanda. Tarifnya sering diserahkan kepada Anda, jadi sepakati jumlahnya dengan jelas sebelum berangkat. Tarif resmi taman nasional sekitar Rp 150.000 untuk wisatawan asing pernah dilaporkan, meski tidak selalu ditarik.
  • Pakai sepatu yang layak dan mencengkeram, kaus kaki panjang atau celana panjang untuk melindungi dari rumput dan pacet, dan bawa minimal 1,5 liter air per orang serta camilan.
  • Berenang: hanya bila air tenang dan jernih di musim kemarau dan pemandu mengizinkan. Jalan turun ke tempat berenang curam.
  • Tanyakan pemandu apakah ada tempat yang tidak boleh dimasuki atau dipotret, dan jangan berteriak, membuang sampah, atau memindahkan batu di situs sakral ini.
  • Tidak ada fasilitas di air terjun. Beri tahu orang lain rencana Anda dan jangan trekking sendirian.

Tempat terdekat

Pertanyaan yang sering diajukan

Seberapa berat trekking ke Air Terjun Matayangu?

Sedang hingga berat: sekitar 1-1,5 jam sekali jalan di jalur sempit tanpa penanda, dengan tanjakan curam, batu kapur tajam, dan anak tangga panjang di akhir. Di musim hujan berlumpur dan lebih lama.

Perlukah pemandu ke Matayangu?

Praktisnya perlu. Jalur tidak bertanda dan papan petunjuk jalan membingungkan; pemandu lokal menunggu di ujung jalan.

Berapa tinggi Air Terjun Matayangu?

Air terjun utama sekitar 75 m. Di musim hujan air terjun kedua setinggi sekitar 130 m mengalir di sampingnya.

Bolehkah berenang di Matayangu?

Di musim kemarau, saat air tenang dan jernih, ada tempat berenang di bawah air terjun yang dicapai lewat jalan curam. Tanyakan pemandu dulu.

Tempat dalam panduan ini

  • Matayangu waterfall · Katikutana, Central Sumba · Buka di peta

Peta Sumba: tempat-tempat dalam panduan kami →

Merencanakan perjalanan ke Sumba? Panduan gratis kami membahas waktu terbaik, transportasi, biaya, keamanan dan budaya. Rencanakan perjalanan →

Air Surut, setiap Minggu

Satu surat singkat setiap minggu tentang menjalani hidup dengan baik, dari pulau yang punya lebih banyak kuda daripada lampu lalu lintas. Gratis.

Email Anda hanya kami gunakan untuk mengirim surat ini. Anda bisa berhenti berlangganan dengan satu klik.

Berita terkait

Patung batu berukir menghadap laut di Pantai Padadita, Waingapu, Sumba Timur.

Wisata

Kosakata berguna di Sumba: bahasa daerah dan ungkapan untuk wisatawan

Bahasa Indonesia dipahami di seluruh Sumba, tetapi beberapa kata dalam bahasa Kambera atau Weyewa dan sapaan yang tepat akan membuat Anda disambut sebagai tamu, bukan sekadar turis.

· 8 menit baca

Wisata

Sumba Tengah: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Kabupaten yang biasanya hanya dilintasi ini menyimpan kubur batu terbesar di Sumba, air terjun di tengah hutan dan kampung-kampung tenang di dataran Anakalang. Inilah alasan untuk singgah.

· 4 menit baca

Wisata

Sumba Barat Daya: yang perlu diketahui sebelum berangkat

Bandara, danau air asin, kampung beratap menjulang di Kodi dan Pasola bulan Februari: kebanyakan perjalanan dimulai di Sumba Barat Daya. Begini gambarannya.

· 5 menit baca